Community Trend Stories & News From Brands We Love

Sumber foto: Clozette Ambassador Cellinikamil


Selama pandemi COVID-19 berlangsung, keharusan untuk berkegiatan di rumah saja menjadi salah satu protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah. Hal ini memang efektif menekan jumlah kasus COVID-19, namun, dikhawatirkan menimbulkan shadow pandemic berupa peningkatan angka kekerasan seksual. Pasalnya, rumah tak selalu menjadi tempat paling aman bagi banyak orang. Berdasarkan penelitian dari United Nations Population Fund (UNFPA), diperkirakan selama tahun 2020 akan ada lebih dari 15 juta kasus kekerasan dalam rumah tangga di seluruh dunia. Hal ini diperburuk dengan kesulitan mengakses bantuan bagi para korban karena kewajiban untuk menjalani serangkaian swab dan rapid test sebelum sampai ke rumah aman.

 

Melihat hal tersebut, salah satu jalan yang bisa ditempuh untuk melindungi para penyintas kekerasan seksual ialah melalui disahkannya Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS). Hingga saat ini, sistem sosial melihat korban kekerasan seksual bukan sebagai pihak yang dilindungi, tetapi malah disalahkan atas kejadian yang menimpanya. Oleh karena itu, hak korban untuk mendapatkan penanganan, perlindungan, dan pemulihan dari lembaga negara terkait menjadi fokus utama RUU PKS ini.